Jumat, 26 Oktober 2012

Berdamai Dengan Makhluk Lain yang Tidak Perlu Disakiti

Judul di atas adalah kalimat yang didapat dari pernyataan Dewi Lestari pada Kompas.com mengenai pilihannya menjadi Vegetarian. Sepenggal kalimat pendek yang maknanya sangat dalam.

Vegetarian dewasa ini sudah menjadi sebuah pilihan gayahidup (atau sebagian penganutnya menyebut ini lebih tinggi lagi sebagai prinsip hidup) yang semakin dikenal masyarakat.
 
Salah satu contohnya adalah dedngan semakin banyaknya restoran atau tempat makan bertemakan Vegetarian / Vegan.
Pilihan seseorang menjadi Vegetarian bisa karena banyak faktor, mulai dari kesehatan, lingkungan, spiritual, dan animal rights.  Seperti di posting sebelumnya, bahwa dengan menjadi Vegan (dan juga Vegetarian) berarti kita ikut berkontribusi besar untuk menekan laju pemanasan global (global warming). Faktor ini cukup keras menyentil awareness masyarakat dunia untuk memikirkan ikut serta memikul tanggungjawab bersama menyelamatkan bumi dengan salah satu cara jitu, yaitu dengan mengurangi makan daging atau beralih sepenuhnya ke pola makan dan pola hidup Vegetarian atau Vegan, karena secara sederhananya adalah bahwa peternakan-peternakan modern adalah termasuk  penyumbang terbesar penghasil emisi CO2 yang merupakan penyebab dari efek rumah kaca itu sendiri.

Sebenarnya dengan menjadi Vegetarian secara otmatis kita juga memahami sebuah prinsip hidup untuk tidak melukai mahluk lain yang bisa merasakan sakit yang sama dengan manusia, apalagi ‘hanya’ untuk kepentingan lidah dan perut (baca: kenyang). Dikatakan ‘hanya’ adalah karena ternyata manusia bisa mendapatkan bahan makanan untuk kepentingan gizinya dari sumber-sumber nabati. Bagi Vegan saja sekarang sudah bisa dibilang cukup mudah mendapatkan bahan makanan yang non-hewani sama sekali, apalagi Vegetarian.

Vegetarian secara umum dibagi tiga:
1.Lacto-Ovo Vegetarian: Tidak makan daging, tapi masih mengonsumsi susu dan telur.
2.Lacto Vegetarian: Tidak mengonsumsi daging dan telur, tapi masih mengonsumsi susu.
3.Vegan: Tidak mengonsumsi daging, telur, dan susu, serta segala produk turunannya.

Info mengenai Vegetarian dan jenis-jenisnya serta sejarahnya bisa dibaca di sini. Penyebutan ‘Vegetarian’ biasanya mengacu pada Vegetarian bertipe ‘lacto-ovo’.

Gizi, yang sekarang disadari oleh banyak dokter dan ahli nutrisi sebagai sebuah akhirnya menjadi sebuah titik ‘kemenangan’ pola makan Vegetarian. Bagaimana tidak, hampir semua penyakit disebabkan oleh kolesterol yang ada pada hewan. Dan bahkan sudah banyak dokter-dokter di negara-negara maju yang juga menjalani pola makan Vegetarian.

Beberapa orang kadang bertanya, “Kamu tidak mengonsumsi daging yang makhluk hidup, tapi kenapa mengonsumsi tumbuhan yang juga makhluk hidup?” Tentunya sangat mudah menjawabnya, tumbuhan tidak merasakan sakit karena tidak mempunyai susunan sistem syaraf seperti manusia dan hewan serta tidak memiliki otak. Sedangkan hewan  bisa merasakan sakit persis seperti manusia.

Dan ketika mereka dipaksa untuk mati ‘hanya’ untuk kepentingan perut dan lidah, rasanya ini tidak fair. Karena kita sebagai manusia punya akal dan budi untuk memilih dan memilah, dan kita tahu (apalagi dewasa ini dengan sumber informasi yang banyak dan arus informasi yang sangat cepat) bahwa masih banyak bahan makanan lain yang bisa menjadi pilihan utama kita untuk kebutuhan lidah, perut, dan yang terpenting adalah gizi.


Sebagai makhluk yang berakal dan berbudi, wajar untuk tidak mengesampingkan asal dan proses sebuah lauk-pauk yang ada di atas tiap piring yang siap dilahap. Dengan lebih meminimalisir kekerasan di belakang prosesnya, tentu untuk mengenyangkan perut akan terasa lebih nyaman karena kita merasa damai ketika tidak melibatkan makhluk lain untuk tersakiti demi perut dan lidah.

Namun, sekali lagi, Vegetarian atau Vegan adalah sebuah pilihan hidup dari banyak pilihan hidup lainnya. Mungkin bisa jadi seseorang tidak cocok badannya untuk menjalani Vegetarian, atau memang tidak mau menjadi Vegetarian karena alasan lain. Tentunya itu pilihan masing-masing. Yang terpenting adalah tiap gigitan pada makanan yang kita makan berarti adalah kesiapan bagi tiap orang tersebut untuk memikul akibat dari apa yang dipilihnya. Dan ketika semisal terkena penyakit di hari tuanya akibat terlalu banyak makan bahan makanan tertentu di masa mudanya, tidak perlu menyesal, itu ‘hanyalah’ buah dari sebuah pilihan di masa lalu. (El Vegano)


betterday zine | oktober 2012 | betterdayzine.blogspot.com
 

 
 

DOMESTIC WAR

Live at The Oh Five

'FREE ME' Video

GO VEG!

xREPRESENTx

'The Downfall'. Sellout failed!

xLIFETIMEx

YKHC! Checkout: here!

EARTH CRISIS

Drug-dealers must fall!!

LIOSALFAR

Metalhardcore! Checkout: here!

Followers

Betterday zine Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template