Rabu, 30 Mei 2012

Vegan dan Hak Istimewa


Classism adalah prasangka dan/atau diskriminasi yang berdasarkan tingkatan sosial di masyarakat. Dan classism juga berlaku pada tiap individu dan perilaku, sistem yang berlaku dan perilaku yang menguntungkan bagi kelas atas dengan mengorbankan kelas bawah.

Tulisan ini sebenarnya hasil dari seringnya saya membaca blog para Vegan yang mempunyai satu benang merah, yaitu banyak yang berpendapat hubungan antara Veganisme dan hak istimewa (dalam hal ini classism) biasanya dinyatakan secara radikal, yang notabene juga saya menikmati hal ini. :)

Ada banyak hambatan untuk Veganisme itu sendiri. Hambatan ini bisa apa saja, antara lain kurangnya pengetahuan tentang pemberdayaan makanan, dan yang paling nyata adalah kurangnya masyarakat berpenghasilan rendah untuk mendapatkan dan mengkonsumsi buah segar, layaknya "food apartheid". Dan issue ini sangat penting untuk dicatat, tapi lebih penting lagi untuk ditanggulangi tentunya! Issue penting ini berada di antara hak istimewa dan Veganisme, tetapi yang terpenting adalah aroma PENINDASAN!

Apa issue ini ngefeks dengan Veganism? Tidak! Banyak yang berpendapat issue penindasan ini sama saja dengan apa yang dialami oleh kaum feminis, perlakuan terhadap LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender), rasisme, dst. Dan akan menjadi hal yang absurd bila kita membahas isu ini didalam masyarakat yang hetero-normative, karena ini adalah issue lama dan hanya beberapa golongan terpelajar yang menentang issue ini, jadi  kita gak perlu susah-susah untuk mikirin. Ini hanyalah satu contoh ilustrasi bagaimana kaum penentang berasumsi bahwa speciesism dan hak istimewa spesies bukan masalah yang penting untuk kita. Lain halnya dengan issue seputaran golongan menjadi pengecualian yang lebih menarik bagi kaum Apatis.

Akan ada issue besar yang datang ketika membahas tentang hak istimewa dan hubungannya dengan Veganisme, yaitu ethno-centricism (membandingkan satu kultur dengan kultur yang lain; bahasa, kebiasaan, keanekaragaman, dan agama) yang berlawanan dengan Veganisme. Contoh yang paling fresh adalah gimana masyarakat Korea mengkonsumsi anjing dan bahkan akan dibuat menjadi ciri dan budaya korea (heritage), untuk kaum fundamental korea hal ini di perjuangkan, tetapi generasi muda korea juga banyak yang sudah Vegan dan berafiliasi dengan PETA untuk menentang hal ini. Di satu pihak makanan berbahan dasar "pleki" ini adalah budaya yang harus dilestarikan. Gak ada hubungan dengan K-Pop tapi banyak yang jadinya memboikot semua produk Korea karena kelakuan sebagian masyarakat yang sebenarnya mau melestarikan "budaya". Karena tidak mungkin seseorang mengkritik Veganisme tanpa memahami tentang produk hewani yang dikonsumsi di masyarakat serta pengaruhnya terhadap kesejahteraan. Dari yang paling mendasar saja yaitu bagaimana industri ternak membandingkan hak manusia terhadap hewan dalam hal makanan / tempat tinggal / sumber daya. Saat ini ada 50 miliar hewan darat dibesarkan dan disembelih setiap tahun untuk konsumsi manusia. Tingkat konsumsi hewan berhubungan langsung dengan tingkat kesejahteraan. Dengan penduduk bumi berada sekita 7 miliar orang di dunia ini, ada 2 miliar orang berada di dalam tingkat kemiskinan yang absolut. Jika hal ini bukan catatan penting untuk produk hewani, ga tau lagi deh apa yang lebih penting. J (dan tingkat kemiskinan ini bahkan tanpa menghitung berapa banyak manusia yang membutuhkan minyak dan air, dan SDA lainnya!). Dan lagi issue seputaran tukang jagal (tukang potong hewan) yang berasal dari rakyat berpendapatan kecil dengan resiko kerja yang tinggi, peternakan yang berada di daerah kumuh dengan kebutuhan infrastruktur yang tinggi (ketersediaan air contohnya), dan lagi anggapan banyak orang bahwa binatang tidak bisa dimasukkan dalam "kelas pekerja" (sehingga sah-sah saja untuk disiksa?).

Contohnya saja pembantaian orangutan di perkebunan kelapa sawit, setiap penduduk sekitar diberi upah dari 500 ribu s/d 2 juta rupiah untuk setiap orangutan yang terbunuh. Seorang karyawan perkebunan kelapa sawit membenarkan kejadian ini, karyawan dan warga diminta memburu orangutan, lalu akan dibayar perusahaan tergantung ukuran orangutan tersebut. Setelah dikumpulkan, orangutan itu lalu dibantai pihak perusahaan. Tak hanya membunuhnya, orangutan itu juga dipotong-potong lalu dimasukan ke dalam karung agar mudah dibuang, tempat pembuangan bangkai orangutan itu pun telah disediakan oleh pihak perkebunan, ini menandakan pihak perkebunan mengetahui dan bahkan merencanakan pembataian tersebut. Reaksi keras pun muncul. Kementrian kehutanan diminta untuk mengusut aksi tersebut, dan siapa saja yang terlibat akan ditindak. Tentu kita semua tahu jika orangutan adalah hewan yang dilindungi dan terancam punah, tapi mereka malah membatainya untuk kepentingan materi semata. Cacian dan makian terus mengalir dari masyarakat yang geram akan tindakan itu. Bagi warga dunia ini adalah kejam, tapi bagi keluarga mereka ini adalah urusan dapur yang kudu ngebul!

Belum lagi orang-orang yang gagal paham mengenai hubungan antara kesejahteraan orang banyak dan industri hewani, banyak yang komentar buruk tentang Veganisme dilihat dari dua hal ini (kesejahteraan dan industri hewani). Contohnya saja yaitu bahwasanya kaum Vegan hanyak membeli produk-produk Vegan mahal dan cuma ada di toko-toko yang khusus pula dan dengan harga yang tidak murah, rajin-rajin melihat "ingredients" suatu produk apabila hendak membelinya (yang ini siy ada benernya juga ya?), dan belum lagi pendapat bahwa seorang Vegan harus mengkonsumsi suplemen Vegan dengan harga yang mahal. Dan lagi-lagi, bagi gw ini hanya contoh ilustrasi dari ketidakpedulian kita dan menganggap issue ini gak penting. Sekarang muncul pertanyaan, ada berapa banyak Vegan yang meluangkan waktu untuk mencari jawaban dan filosofi bahwa semua hal tadi bukanlah arti dan esensi "Vegan" itu sendiri. Bahkan gw pernah baca suatu tulisan di majalah "TIME" yaitu bahwa diet Vegan banyak menyita waktu daripada diet non-Vegan. Mungkin gw lupa berapa cepat memasak steak dibandingkan dengan memasak salad atau gado-gado ya?!

Pada akhirnya I GET BUMMED melihat ada perbedaan besar antara orang yang hanya acuh tentang masalah ini dan kemudian ada orang yang dengan usaha keras melakukan apapun yang mereka bisa untuk menjadi acuh tentang masalah ini! Banyak komentar yang saya lihat, dan blog yang saya lihat, di reblogged pula dengan orang yang tidak berasal dari daerah dengan beban hidup yang sama. Blatant class/cultural appropriation membuat saya ingin muntah karena bukan saja kamu membela speciesism, tetapi kamu menyatakan sikap rasis dan classist; kamu appropriating terhadap pengalaman orang-orang terpinggirkan UNTUK KENYAMANAN ANDA.

Go Vegan, masuk ke dapur, dan masak sup kita sendiri. Berjejaring dan mulailah workshop berkebun di perkotaan dan proyek pemberdayaan buah dan makan lokal di sekitar kita. Mendukung inisiatif scene lokal untuk membuat buah dan sayuran segar yang bisa dimakan oleh semua orang. Beri perhatian issue diatas dan beri dukungan, promosikan dan berikan kritik terhadap intersectionality (suatu cara di mana berhubungan dengan penindasan yang saling overlaps). Jangan berdiam DIRI DALAM kritik yang memperlihatkan HAK ISTIMEWA ANDA SENDIRI dan Arogansi! (xPeterx)


betterday zine | mei 2012 | betterdayzine.blogspot.com
twitter.com/betterdayzine
 

DOMESTIC WAR

Live at The Oh Five

'FREE ME' Video

GO VEG!

xREPRESENTx

'The Downfall'. Sellout failed!

xLIFETIMEx

YKHC! Checkout: here!

EARTH CRISIS

Drug-dealers must fall!!

LIOSALFAR

Metalhardcore! Checkout: here!

Followers

Betterday zine Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template