Kamis, 26 April 2012

Dipilih.. Dipilih.. Dipilih..


Entah mengapa terlintas pikiran untuk menumpahkan uneg-uneg saya. Hehe.. Inspirasi tulisan datang begitu saja setelah membaca sebuah tulisan seorang teman dan setelah merasakan langsung apa yang sebenarnya terjadi.

Saat ini Hardcore benar-benar sedang happening, sampai-sampai di Bandung – tempat saya tinggal – Hardcore sepertinya sudah menjadi lahan bisnis yang sangat menjanjikan setelah bisnis keripik pedas yang mulai kelihatan lesu geliatnya. Ya, kalian bisa menebaknya. MERCHANDISE HARDCORE!  Ini yang sedang tren di Bandung atau mungkin juga di kota/daerah lainnya di Indonesia. Ini sejalan lurus dengan siklus hidup Hardcore yang kembali berguling dan (mungkin) sekarang sedang di masa “kejayaannya.” Haha.. Terdengar sedikit berlebihan memang. Namun jika kita mau sedikit flashback, ini benar adanya. Masih ingatkah kita dengan suasana ketika era “kejayaan” Punk? Emo? Metal? Atau mungkin yang sedang marak lagi, Black Metal? Ya, ini seperti ulangan di tahun-tahun sebelumnya. Semacam ujian tidak tertulis yang akan menyaring kita semua untuk dapatkan hasil siapakah yang mampu konsisten di jalannya. Ya ya ya, terdengar gampang memang. Namun, pada kenyataannya kita disudutkan pada aspek-aspek kehiupan yang mulai membuat sebuah effort (perjuangan) dari scene hc/punk sedikit memudar. Sebagai contoh, tren yang di Bandung itu.  Bahkan sekarang juga marak pembajakan merchandise band-band hc/punk lokal.

Seolah ingin memanfaatkan momen, para produsen itu memproduksinya dengan ganas. Alih-alih yang dibajak/yang dibuat merch-nya adalah ben-ben besar luar negeri/lokal (yang mungkin mereka lebih mapan), mereka malah memproduksi ben-ben yang baru merintis atau malah bukan ben. Bukan hanya ben dari kota yang bersangkutan (untuk di Bandung) yang dibajak, melainkan juga ben-ben dari kota lain. Dan juga mungkin, asal ada embel-embel “hardcore” pasti laku di pasaran.

Internet juga punya peran penting dalam hal pembajakan ini. Tidak ada batasan apapun dalam dunia maya. Ini yang menjadikan celah pembajakan merchandise yang marak belakangan ini.

Di sisi lain, kita tidak bisa menyalahkan si tukang dagangnya juga karena mungkin dia tidak pernah tau apa yang namanya hardcore (bukan yang into di scene hc/punk) dan hanya memanfaatkan momen ketika hardcore sedang happening.

“Mang, kenapa jualan kaos-kaos hardcore? Mang, sebenarnya tau nggak sih hardcore itu apa?”  

Apakah kita akan berlaku demikian kepada si tukang dagang?! Nggak gitu juga kaleee..Haha! Si tukang dagang mungkin hanya akan menjawab:
“Saya nggak tau hardcore, saya cuma nyari makan dari dagang ginian.”
Sampai sini..stop! Saya sendiri masih bisa memakluminya karena ini urusan perut. Dan saya yakin dengan perut yang lapar seseorang tidak akan dapat memahami apapun. Jangan bicarakan ideologi/paham pada orang yang lapar. Hehe..
 
Namun, jika pembajakan dilakukan oleh orang-orang yang berasal dari scene hc/punk itu sendiri, itu sudah lain soal. Yang menjadi korban bukan hanya ben yang bersangkutan, melainkan juga desainer yang membuat artwork si ben tersebut. Seolah kata-kata “respect”, “friendship”, dll yang selama ini melekat dalam tubuh scene hc/punk menguap begitu saja tanpa arti karena pembajakan yang dilakukan orang-orang dari scene hc/punk yang tidak bertanggung jawab. Ya, mungkin sebagian orang/ben tidak terlalu ambil pusing dengan semua itu (pemikiran anti-copyright, dsb) – termasuk saya sendiri. Namun, tetap saja membuat sebagian orang/ben merasa risih. Jadinya ben-ben/orang-orang yang jadi korban hanya bisa pasrah dan berusaha untuk jauh berpikir positif; mungkin dengan adanya pembajakan itu, mereka (si pembajak) bisa memberi nafkah lebih untuk anak-istrinya. Lumayan buat promosi ben juga.  Atau mungkin: “Ya, biar saja lah. Toh mereka juga cari makan.”

Catatan untuk orang-orang dari scene hc/punk yang dengan gampang melakukan pembajakan untuk mengeruk keuntungan pribadi semata:
“Kita semua telah mau berbagi hasil kreasi, tetapi kita tak pernah mau berbagi ekonomi. Itu kelemahan kita. Di bawah sistem seperti ini, kita semua orang-orang kalah, hanya mereka yang mau berbagilah yang menang.” –Dennis Lyxzen (Refused & The international Noise Conspiracy) *Dikutip dari Beyond the Barb Wire zine, Issue 01, 2005.

Dan jika para hardcore kids yang sering meneriakkan kata-kata “respect” itu bisa benar-benar menghargai ben-ben (bukan hanya hardcore) kesayangannya, pasti mereka akan membeli merch ben ke tempat yang lebih bisa dipercaya (misalnya beli ke ben-nya langsung).

Untuk pembeli, saya sangat heran. Apa kalian tidak mau tahu tentang apa yang kalian ingin (atau sudah) beli?  Lagi-lagi, budaya konsumerisme mengalahkan budaya baca di scene hc/punk. Internet sudah bisa diakses siapapun dan di manapun. Tapi, sepertinya hasrat eksistensi dalam diri mengalahkan semua naluri keingintahuan. Membeli merchandise hanya karena momen atau sedang tren. Tanpa pernah mencari tau siapa/apa yang sedang kamu pakai. Sepertinya, tak penting lagi:  “Apa artinya” yang tersisa hanya: ”Kelihatannya.”

Jangan hilangkan rasa keingintahuan demi sebuah kata eksistensi se-saat! Karena eksistensi dalam ruang abu-abu hanya akan membuatmu ragu di waktu tertentu. Sebaliknya, eksistensi yang berfondasi pengetahuan akan membuat kita tak ragu dengan pilihan. Time will tell who’s the real dieharders!

Kita jangan muluk-muluk ingin menjadi orang-orang “pintar” (yang into) di scene hc/punk (hardcore kids yang pintar). Minimal, jadilah “yang tahu”. Karena lewat keingintahuan itu seseorang bisa jauh lebih bijak dalam menentukan pilihan dan apa yang hendak diperbuatnya. Semoga bermanfaat, peace out! (Whisnu)

Dimuat di Betterday #27

betterday zine | april 2012 | betterdayzine.blogspot.com
 

DOMESTIC WAR

Live at The Oh Five

'FREE ME' Video

GO VEG!

xREPRESENTx

'The Downfall'. Sellout failed!

xLIFETIMEx

YKHC! Checkout: here!

EARTH CRISIS

Drug-dealers must fall!!

LIOSALFAR

Metalhardcore! Checkout: here!

Followers

Betterday zine Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template