Rabu, 07 Desember 2011

Straightedge dan Harga Diri


Menjadi Straightedge adalah sebuah pilihan. Tiap pilihan yang diambil adalah berdasarkan pada pertimbangan matang yang rasional. Menjadi Straightedge berdasarkan kesadaran adalah sebuah langkah besar yang ‘positif’ (baik). Mungkin ini terkesan subyektif, namun paling tidak dari sesuatu yang ‘terkesan subyektif’ ini tidak mengganggu orang lain dan bisa membawa dampak baik bagi orang lain dan lingkungan.

Untuk menganut Straightedge tidak melewati semacam pendaftaran, tes / ujian, atau bahkan ploncoan ala mahasiswa apalagi bullying! Hehe! Siapapun berhak menjadi Straightedge dengan cara sederhana, mengklaim diri secara individual (self-promise) dan mengklaim diri serta sosial. Perlukah secara sosial? Yups, kalau sekadar individual dan tidak diketahui orang lain sama sekali, maka ‘mengklaim’ tidak berfungsi sama sekali.

Cara di atas (mengklaim) memang terdengar simpel, namun sebenarnya tanggungjawab dan konsekuensinya tidak sesederhana itu. Gaya hidup yang banyak orang bilang ‘positif’ (walaupun penulis tidak menyebutnya sebagai gaya hidup yang mewajibkan selalu berpikir dan bertindak secara positif dalam arti umum) kadang berdampak ‘negatif’ seperti prasangka dari orang lain yang belum mengenal pribadi Straightedger tersebut, pengucilan, bahkan hingga tingkat perkelahian hanya gara-gara perbedaan pendapat seputar prinsip hidup.

Untuk dampak baiknya mungkin tidak perlu dijelaskan lebih detail lagi sebenarnya semua orang sudah mengerti bahwa absen sama sekali dari pengonsumsian rokok, minuman beralkohol, dan narkoba adalah pilihan jitu. Ya, kan? Semua BISA melakukan ini, walaupun belum semua orang yang MAU memilih untuk menghindarinya. Dampakan ‘negatif’ (dalam artian kurang atau tidak baik) dari mengklaim Straightedge kadangkala datang dari orang-orang yang belum paham mengenai Straightedge itu sendiri ataupun belum mengenal pribadi si pelaku Straightedge secara personal.

Hal yang wajar ketika orang yang belum paham ini kemudian menganggap orang-orang yang mengklaim Straightedge adalah orang yang ‘kurang kerjaan’. Hehe! Namun tentunya Straightedger tidak perlu menanggapi opini yang seperti itu karena itu tidak termasuk sebuah resistensi yang mengancam. Malahan sebaiknya orang-orang yang berpendapat seperti itu diajak berkomunikasi mengenai hal ini (Straightedge). Apabila nantinya dia tetap tidak menerima argumenmu sebagai Straightedger, biarkan saja. Toh itu pilihan pribadinya. Selama bisa saling menerima perbedaan, semua tidak jadi masalah.

Begitu juga untuk kasus bahwa ada orang lain yang tidak setuju dengan Straightedge karena dia belum mengenal pribadi si Straightedger tersebut (namun dia sudah mengerti mengenai eksistensi Straightedge sebagai sebuah ‘paham’). Hal ini sebenarnya akan terasa lebih mudah, karena ada pepatah “kalau tak kenal maka tak sayang”. Hehe! Sehingga proses perkenalan yang wajar dan friendly tentunya bisa mengubah sedikit-sedikit pandangan negatifnya terhadap Straightedger dan Straightedge itu sendiri, karena mungkin orang tersebut sebelumnya belum pernah mempunyai teman yang penganut Straightedge. Dan tentunya akan menjadi lebih mudah lagi ketika kita menjelaskan kepada teman-teman baru yang sama-sama sudah berkecimpung di scene hardcore/punk.

Ada masalah lain ketika Straightedger menghadapi tantangan dari dunia ‘mainstream’. Istilah ‘mainstream’ di sini diartikan secara sederhana berarti dunia awam. Seringkali tantangan dari dunia awam lebih susah daripada di scene, seperti juga kasus Straightedge ini. Seperti kesadarannya untuk menjaga self-promise Straightedge dengan tetap berkomunikasi dengan orang-orang yang bukan dari scene hc/punk yang juga kebanyakan bukan Straightedge.

Contoh kasus, semisal ketika seorang Straightedger sedang nongkrong atau hangout dengan para pemuda lokal sekitar kampung atau kompleksnya, kadangkala dibarengi dengan kegiatan merokok atau bahkan minum alkohol. Dan seringkali orang tidak enak ketika ikut nongkrong di situ tapi tidak ikut nimbrung dalam kegiatan tersebut (merokok atau minum alkohol). Minum alkohol di sini bukan berarti sampai mabuk-mabuk, hanya sekadar untuk sarana bersosialisasi, walaupun tidak jarang pula ada yang sampai mabuk. Namun karena alasan inilah (sarana sosialisasi) yang membuat orang terpaksa ikut mencicipi seteguk atau beberapa hisap rokok untuk sekadar ’menghargai’ mereka. Dan inilah yang menjadi tantangan bagi Straightedger untuk tetap bisa bergaul di lingkungan sekitar (bukan dari kalangan hc/punk saja) namun tetap menjaga komitmen Straightedge.

Sebagai Straightedger, tentunya TIDAK ADA absen sementara waktu untuk ikut mengonsumsi barang-barang yang dilawan oleh konsep Straightedge itu sendiri. Jadi pilihannya adalah Straightedger lebih pintar memilih cara berkomunikasi dengan mereka. Mulai dari menjelaskan kepada mereka bahwa kamu tidak mengonsumsi SAMA SEKALI barang-barang tersebut. Kalau dibilang ‘sok alim’, ‘sok suci’, ataupun ‘pengecut’, biarkan saja. Toh ukuran-ukuran tersebut tidak ditentukan oleh segelintir pemuda lokal tersebut. Malahan kamu bisa tunjukkan kepada mereka bahwa kamu yang tidak mengonsumsi barang-barang tersebut tetap mau bergaul dengan mereka yang mungkin sedang disertai kegiatan minum alkohol. Dan kamu pun bisa menggunakan sarana atau momen lain seperti kerja bakti, rapat-rapat pemuda, dan kegiatan lain untuk menunjukkan bahwa kamu memang ingin berkontribusi di kompleks lingkungan tempat tinggalmu. Dengan banyaknya proses bersosialisasi dan komunikasi akan merubah pola pikir para pemuda tersebut. Karena sebenarnya bukan kegiatan merokok ataupun minum alkohol.

Untuk contoh kasus lain, kadangkala Straightedger menghadapi tantangan dari dunia kerja. Seperti ketika seorang bos mengajak para pegawainya untuk makan-makan dalam sebuah acara tertentu. Seorang Straightedger yang kebtulan salah satu pegawai di situ akan menghadapi tantangan ketika bos tersebut menawari minuman yang mengandung alkohol dalam bagian acara makan-makan tersebut. Sebagai pegawai tentunya merasa tidak enak untuk menolaknya, namun sebagai individu pelaku Straightedge tentunya harus bisa menolak dengan cara apapun, tentunya dengan cara yang friendly. Bisa dijelaskan kepada bos dan teman-teman kerja lainnya bahwa dia (si Straightedger) tidak mengonsumsi alkohol sama sekali, dengan menggunakan bahasa yang polite, sederhana, dan tetap menyenangkan.

Tulisan di atas bisa dipahami sebagai sebuah penjelasan yang 'jitu', ataupun penjelasan yang bersifat 'normatif'. Semua tergantung dari mana kamu melihatnya. Nyatanya cara tersebut ampuh bagi banyak Straightedgers. Namun ada pula beberapa orang yang memilih untuk gagal (sellout) ketika dihadapakan dengan realitas sosial yang membuat dia tidak jitu dalam memilih cara-cara untuk menjaga self-promise-nya. Yang perlu diingat lagi adalah bahwa seseorang memutuskan mengambil Straightedge adalah berdasarkan akal sehat dan pertimbangan matang. Namun ketika ternyata ada yang memutuskan untuk sellout karena alasan-alasan cemen, sebenarnya dia belum menunjukkan ‘pertarungan’ yang sebenarnya, yaitu untuk menjaganya sampai mati. Karena memang butuh usaha besar untuk menjaga identitas dan self-respect atau harga diri. (El Vegano)

Dimuat juga di ForTomorrow zine #9

betterday zine | desember 2011 | betterdayzine.blogspot.com
 

DOMESTIC WAR

Live at The Oh Five

'FREE ME' Video

GO VEG!

xREPRESENTx

'The Downfall'. Sellout failed!

xLIFETIMEx

YKHC! Checkout: here!

EARTH CRISIS

Drug-dealers must fall!!

LIOSALFAR

Metalhardcore! Checkout: here!

Followers

Betterday zine Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template