Jumat, 16 Desember 2011

Mereka Ditangkap, Mereka ‘Direhabilitasi’.. Mereka Tidak Melakukan Tindakan Kriminal

Setelah ditangkap dan dicukur gundul, kemudian anak-anak punk tersebut disuruh berendam.


Sebuah berita di SuaraMerdeka.com menyampaikan informasi seputar anak punk di Aceh yang ditangkap aparat di sebuah gig. Polisi menahan mereka dengan alasan sikap dan penampilan mereka seperti gaya rambut mohawk dan memakai tindikan di beberapa bagian wajah dianggap sebagai sebuah ancaman terhadap nilai-nilai Islam.

Berita di atas menjadi heboh karena awalnya yang merilisnya adalah AP (Associated Press) dan kantor berita Perancis AFP. Associated Press menurunkan beritanya dengan judul “Hard-line Indonesian police shave punkers’ Mohawks”, sedangkan AFP dengan judul “Indonesian Sharia Stronghold ‘Rehabilitates’ Punks“ . Kedua berita yang diturunkan oleh kantor berita terbesar tersebut akhirnya dikutip oleh banyak sekali sumber-sumber berita online lain di seluruh dunia.

AFP juga menurunkan 10 foto aksi pencukuran rambut anak punk dan saat mereka dimandikan di kolam Sekolah Polisi Negara di Seulawah, Saree, Aceh Besar. Termasuk foto kala mereka ditahan di sel Markas Polisi Banda Aceh. Berita AFP ini dikutip banyak media asing lainnya, di antaranya Straits Times, MonstersAndCritics.com, Sin Chew Jit Poh, dan ABC. Sama halnya dengan AFP, berita yang disajikan AP dikutip sejumlah media, di antaranya situs Salon, New Jersey Herald, eTaiwan News, dan Seattle Post Intelligencer. Dan sekarang apabila kamu search di Google dengan kata kunci sederhana saja "punk in Aceh", kamu akan menemukan puluhan sumber berita dotcom terpercaya di seluruh dunia, bahkan hingga India dan Timur Tengah sekalipun.

Kemudian yang menjadi sorotan adalah apakah perlu tindakan aparat sebegitu kerasnya terhadap para punks tersebut? Apa sih salah mereka?

Aparat kepolisian melucuti aksesori yang mereka kenakan seperti kalung dan rantai. Kemudian para punks itu disuruh mandi dan berganti pakaian yang lebih bersih, sebelumnya mereka dipotong rambutnya hingga gundul. Serasa tahanan. Tindakan tersebut diambil karena dianggap salah satu upaya untuk mempromosikan nilai-nilai syariat.

Di sini tidak akan membicarakan wilayah dogma agama terlalu dalam, hanya saja keputusan untuk menangkapi dan penggundulan serta argumen mereka untuk ‘merehabilitasi’ para punks tersebut sudah kelewat batas. Belum lagi ada opini bahwa penangkapan tersebut karena disinyalir bahwa kaum punks 'dianggap' meresahkan masyarakat sekitar karena dilihat dari dandanannya yang seperti gembel, dan suka duduk-duduk (baca: nongkrong) di pinggir jalan. Opini ini tentunya sangat subyektif sekali. Anggapan bahwa mereka meresahkan harus dibuktikan dulu bahwa punks tersebut memang melakukan tindakan yang melanggar hukum, seperti pemerasan, perkelahian, perampasan, pencurian, hingga membawa alkohol.

"Atas dasar apa mereka ditahan dan dibina dengan cara-cara militer, kenapa tidak di panti sosial atau lembaga lain saja. Konstitusi kita menjamin kebebasan berekspresi sejauh tidak melanggar aturan yang ada," kata Koordinator Komisi orang hilang dan tindak kekerasan (Kontras) Aceh, Hendra Fadli, Kamis 15 Desember 2011. (Vivanews.com)

Belum kelar urusan penangkapan tersebut, pagi ini ada sebuah berita di Kompas.com yang memuat informasi yang serupa lanjutan dengan judul Komunitas Punk Tak Boleh Ada di Aceh”. Tidakkah ini terdengar fasis / diskriminatif? Apakah punks segitu ngerinya hingga dibilang meresahkan dan dianggap akan memberi dampak buruk bagi generasi muda. Ini malah terlihat bahwa Aceh belum siap dengan segala kemajuan (modernisasi) dunia, hingga merasa harus menutup diri . Secara ekstrim, kalau mereka memang takut generasi muda Aceh terkontaminasi dengan ‘hal-hal buruk’, silakan saja tidak mempunyai televisi, komputer dan internet, dan lebih banyak berdiam diri di rumah. Ini malah masuk akal.

Apapun itu, yang dilakukan oleh aparat Aceh serta pernyataan wakil gubernur Aceh mengenai pelarangan komunitas punks sudah masuk kategori diskrimintaif. Bagaimana tidak, mereka menunjukkan paranoid yang berlebihan terhadap perbedaan yang hanya kasat mata pada gaya dandanan punk hingga memaksa para punks untuk menjalani 'kehidupan normal' menurut versi mereka, di mana masih banyak korupsi di sana-sini dan pelanggaran HAM yang belum terungkap, padahal para punks tersebut tidak melakukan tindakan kriminal. Yups, 'kehidupan normal' menurut standard mereka. (El Vegano)

---------------------------------------------

- Untuk melihat foto-foto ukuran BESAR di mana para
punks di Aceh ditangkap, digunduli, dan disuruh berendam, silakan cek DI SINI!

- Berikan petisimu untuk menunjukkan bahwa kamu tidak setuju dengan perlakuan aparat Aceh terhadap penangkapan punks tersebut klik DI SINI!

---------------------------------------------


betterday zine | desember 2011 | betterdayzine.blogspot.com
 

DOMESTIC WAR

Live at The Oh Five

'FREE ME' Video

GO VEG!

xREPRESENTx

'The Downfall'. Sellout failed!

xLIFETIMEx

YKHC! Checkout: here!

EARTH CRISIS

Drug-dealers must fall!!

LIOSALFAR

Metalhardcore! Checkout: here!

Followers

Betterday zine Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template