Selasa, 14 Desember 2010

Fake Meat, Sebuah Alternatif Bahan Makanan bagi Vegan dan Vegetarian



Fake meat? “Apakah itu?”

Mungkin hal ini masih awam bagi orang-orng yang non-Vegetarian ataupun Vegan. Fake meat secara harafiah diterjemahkan sebagai daging ‘palsu’ yang pengertian lebih umumnya adalah daging buatan atau daging imitasi. Ini berarti produk fake meat tidak mengandung unsur daging dan bahan-bahan hewani sama sekali.

Muncul pertanyaan: “Untuk apa?” Sebenarnya ini sebuah bahan masakan alternatif bagi orang-roang yang ketika awalnya menjadi Vegetarian/Vegan mendapatkan kendala untuk menjalani pola makan baru ini (baca: Vegetarian/Vegan). Namun hal ini juga bisa menjadi alternatif bagi Vegetarian/Vegan yang telah menjalani gaya hidup ini bertahun-tahun. Karena fake meat adalah non hewani, dan tetap pada benarng merah konsep Vegetarian/Vegan yang meminimalisir cruelty on animals dan global warming (karena limbah animals farm lebih tinggi sebagai penghasil gas emisi CO2, bahkan bila dibandingkan asap mobil sekalipun).

Ada lagi pertanyaan: “Kalau begitu, kamu ga Vegetarian/Vegan murni dong?” Itu sebuah pertanyaan umum yang mungkin sering ditujukan kepada kaum Vegan/Vegetarian. Pertama, Vegetarian adalah sebuah konsep pola makan dan pola hidup yang berpantang makan daging hewan (untuk Vegan berpantang daging, telur, susu, dan segala produk yang mengandungnya). Bahkan batasan itu bisa dikatakan TITIK di situ. Karena Vegetarian/Vegan bukan hanya wacana yang diargumentasikan dalam debat kusir terhadap apa yang ada di alam pikiran saja. Maksudnya begini, ketika kamu berkomitmen diri menjadi Vegetarian, apapun yang kamu makan sepanjang tidak ada kandungan dagingnya, itu legal. Karena ini tidak dalam halnya bermain-main di alam pikiran bahwa “Makan fake meat tidak Vegetarian”, “Fake-meat mempunyai cita rasa yang mirip dengan daging”, dan blablabla lain yang hanya ada di alam ide/gagasan.

Fake meat dibuat dari bahan-bahan seperti gluten (olahan dari tepung) ataupun dari jamur yang diproses lebih lanjut. Untuk tekstur, warna, dan citarasa, digunakan bahan-bahan alami. Beberapa fake meat bahkan ditambah unsure protein dan atau kalsium yang lebih. Hal ini adalah untuk menunjang kebutuhan gizi bagi para Vegetarian dan Vegan. Untuk citarasa dalam menu makanan, tergantung bagaimana mengolahnya. Bisa dibuat semacam menu rendang, oseng-oseng, bakso, dan sebagainya. Dan proses memasaknya menggunakan bahan-bahan yang non hewani.

Vegetarian dan Vegan tidak berkontra dengan citarasa. Sepanjang yang dijalankan adalah pola makan (nyata) non hewani (untuk Vegetarian) dan non-hewani-telur-susu-produk mengandung hewani (untuk Vegan), semuanya adalah SAH. Karena yang dipantang oleh Vegetarian adalah produk hewani bukan sekadar “citarasa menu seperti makanan mengandung daging”. Lagipula citarasa menu tersebut diciptakan oleh bumbu-bumbu dan cara pengolahan.

Hal itulah yang membuat fake meat bisa menjadi alternatif (baca: bukan utama) makanan atau hidangan bagi kaum Vegan dan Vegetarian. Dan secara kasarnya, bahkan orang-orang non-Vegetarian/Vegan pun boleh-boleh saja mengkonsumsi fake meat sebagai alternatif menu sehari-harinya dan hal itu berarti sekaligus ikut berkontribusi untuk menekan laju global warming. (El Vegano)


Dimuat di Betterday #22


betterday zine | desember 2010 | betterdayzine.blogspot.com
 

DOMESTIC WAR

Live at The Oh Five

'FREE ME' Video

GO VEG!

xREPRESENTx

'The Downfall'. Sellout failed!

xLIFETIMEx

YKHC! Checkout: here!

EARTH CRISIS

Drug-dealers must fall!!

LIOSALFAR

Metalhardcore! Checkout: here!

Followers

Betterday zine Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template