Rabu, 07 April 2010

Vegetarian Menjadi Tren di Scene (?)


Istilah Vegetarian dewasa ini sudah tidak asing lagi di kuping sebagian besar masyarakat Indonesia, termasuk juga di dalam scene hc/punk nusantara. Mengapa scene hc/punk? Karena lebih asyik membicarakan hal ini dalam konteks yang lebih sempit dan spesifik, dan tentunya adalah karena Betterday memang lahir dan berkembng di scene hardcore. Vegetarian merupakan sebuah gaya hidup berpantang makan daging. Lebih strict-nya lagi adalah Vegan, yaitu sebuah pantangan untuk mengkonsumsi semua produk yang mengandung unsur hewani, dan juga tidak menggunakan / memakai produk-produk yang berasal dari bahan binatang, atau berhubungan dengan pengeksploitasian binatang. Semua itu dilakukan sebesar mungkin dengan tujuan meminimalisir cruelty.

Tentang scene; ada beberapa orang menginterpretasikan istilah “scene” dengan pengertian yang berbeda-beda. Sebagian orang mengartikannya sebagai “tongkrongan” atau tempat hangout, yaitu suatu tempat dimana para kids (hc/punk/metal) bertemu pada saat-saat tertentu untuk ngobrol, atau sekedar setor muka doank, dan itu sifatnya menetap. Semisal di rumah temen, ataupun suatu tempat lain. Sedangkan arti “scene” menurut penulis sendiri adalah semacam “dunia” dimana para kids (hc/punk/metal) berkomunikasi (baik secara tatap muka maupun dengan media apapun) satu dengan lainnya baik sekedar bercerita ngalor-ngidul sampai yang membuat suatu pergerakan nyata. Dan ini sifatnya tidak menetap di sebuah tempat. Bisa dimana saja, kapan saja, dan dalam keadaan apa saja, namun cenderung berdasarkan area atau lebih luasnya kota / propinsi. Jadi istilah “scene” ini lebih luas dari sekadar tempat tongkrongan. Seperti semisal scene hardcore/punk Jogja, scene hardcore/punk Bekasi, Solo, Malang, dan sebagainya, yang tentunya didalamnya masih terdapat berbagai macam tongkrongan atau kolektif lain.

Sedangkan “tren” sendiri secara sederhana bisa diartikan sebagai suatu fenomena di mana sebuah gaya hidup – baik yang terwujud dalam gaya berpakaian, gaya berbicara, tingkah laku/kebiasaan, ataupun pernyataan sikap (klaim diri) untuk menjalani sebuah prinsip hidup tertentu — yang tadinya belum banyak dilakukan atau belum terkenal di masyarakat umum, untuk kemudian menjadi semacam budaya yang lebih populer dengan banyaknya anggota masyarakat yang mengadopsi dan menjalankannya. Tren ini sifatnya dating dan pergi, sehingga lebih bersifat temporer.

Tren ini pun ternyata terjadi terhadap gaya hidup Vegetarian (termasuk Vegan) di dalam scene. Aneh? Tidak. Menyedihkan? Iya. Tulisan ini dibuat karena semakin menjamurnya kaum Vegetarian di Jogja, baik masyarakat mainstream, maupun hc/punk kids. Apakah ini sebuah fenomena kelatahan massal, sekadar ikut-ikutan, ataukah sebuah gejala bahwa gaya hidup Vegetarian memang sudah bisa diterima oleh sebagian besar masyarakat?

Banyak alasan mengapa seseorang memutuskan untuk bervegetarian (menjalankan paham Vegetarianisme). Bisa alasan kesehatan, animal rights, ataupun karena sebuah keyakinan tertentu. Nah, hal-hal itulah yang sebenarnya bisa menjelaskan mengapa Vegetarian bisa menjadi semakin popular seperti sekarang ini.

Untuk Straightedgers, ada beberapa dari mereka yang setelah memutuskan menjadi Straightedge, kemudian diikuti dengan menjadi Vegetarian. Karena menurut beberapa dari mereka itu merupakan gaya hidup yang sehat. Jadi dengan menjadi Straightedge, yang notabene memang pola hidup sehat, dapat dilengkapi dengan menjadi Vegetarian untuk lebih menunjang gaya hidup sehatnya itu. Sebagai sesama makhluk hidup yang memiliki otak dan sistem saraf (yang berarti bisa merasakan sakit), sudah wajar ketika kesadaran muncul untuk tidak menyakiti, apalagi ikut andil dalam pembantaian binatang hanya untuk kepentingan urusan perut dan apalagi fashion. Kesadaran inilah yang kemudian memunculkan isu-isu animal rights di muka bumi untuk menghargai hak hidup binatang.

Sebuah keyakinan (termasuk agama) juga ikut berpengaruh apakah seseorang lebih mudah atau bisa menerima paham Vegetarian ataukah tidak, ataukah justru menentangnya. Seorang Budhis mungkin akan lebih mudah menerima gaya hidup Vegetarian, karena paham tersebut memang ditawarkan di dalam ajaran agamanya. Seorang pengikut Hare Krishna pun akan mendukung gerakan ini karena memang ada larangan bagi para pengikutnya untuk ikut serta dalam pembunuhan makhluk hidup (yang bisa merasakan rasa sakit tentunya). Ataupun para pengikut ajaran Gandhi (Gandhian) akan menolak untuk memakan daging (membunuh binatang) karena hal tersebut adalah termasuk suatu tindakan kekerasan yang notabene dilarang oleh salah satu ajaran Gandhi, ahimsa (nir-kekerasan), yang istilah tersebut diambil dari ajaran Hindu. Akan tetapi apakah hal tersebut akan dapat diterima dengan mudah oleh pengikut keyakinan (agama) yang lain yang mungkin tidak adanya pernyataan tertulis di dalam kitab sucinya yang mendukung Vegetarianisme? Apakah seorang Muslim akan mudah menerima paham Vegetarianisme yang melarang memakan daging pada pengikutnya? Di ajaran Muslim terdapat Idul Adha yang sebagian besar dari kalian pasti sudah mengerti apakah yang terjadi pada hari tersebut. Ya, pada hari tersebut dilakukan penyembelihan hewan (kambing, sapi) di mana dagingnya kemudian dibagikan kepada anggota masyarakat, yang tidak mampu khsususnya. Jadi, apakah mungkin seorang Muslim menjadi Vegetarian? Sebenarnya agak susah berbicara di bidang ini, karena cukup sensitif. Namun pertanyaan di atas bisa dijawab dengan “YA, sangat mungkin sekali.” Sebagian dari mereka pun banyak yang menjadi Vegetarian sekarang ini. Pertanyaannya adalah: apakah motif dari mereka untuk menjadi Vegetarian? Memang sebagian dari mereka akan tetap ber-Idul Adha ketika waktunya tiba, tetapi apa yang lebih perlu dicermati adalah langkah awal mereka untuk berani memutuskan bervegetarian, itulah yang patut dihormati. Karena hal yang sensitif ini sebaiknya disikapi secara individual. Namun langkah berani itu perlu diacungi jempol. Setidak-tidaknya mereka tetap tidak memakan daging hanya untuk kepentingan mengenyangkan perut.

Untuk kasus di scene, ada alasan lain (selain faktor internal –kepercayaan, asal, dll) yang sebenarnya menunjang mengapa gaya hidup Vegetarian menjadi cukup populer, yaitu faktor tongkrongan/kolektif/tempat hangout. Ada terdapat banyak tempat hangout atau kolektif di dalam scene. Masing-masing dari mereka pun memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Sebagai contoh, sebuah kolektif yang mayoritasnya adalah Veggies (itislah untuk Vegetarian), akan sangat memungkinkan bagi orang-orang yang lain (non Vegetarian) untuk lebih bisa menerima kehadiran paham tersebut, atau lebih jauhnya bahkan ikut “terjun” menjadi Vegetarian. Di dalam kolektif Straightedge pun akan terasa lebih mudah dijumpai beberapa orang yang juga menganut Vegetarianisme. Karena walaupun sebenarnya keduanya merupakan paham yang berbeda, namun memiliki hubungan yang berdekatan dilihat dari sejarah perkembangannya di scene hardcore.

Nge-tren-nya gaya hidup Vegetarian di scene adalah sebuah fenomena. Sehingga untuk menentukan apakah itu tren semata yang datang dan pergi, alias dilakukan secara temporer, ataukah itu sebagai pernyataan dan komitmen diri untuk membawanya sampai mati dengan kesadaran tinggi, biarkanlah waktu yang menjawabnya. Namun pertanyakan kepada dirimu apakah kamu hanya akan menjadi bagian dari tren yang datang dan pergi atau bersikap tegas dan berkonsekuen diri seperti semangat yang sering ditunjukkan di dalam hardcore?? (El Vegano)

Dimuat di Betterday #7


betterday zine, april 2010, betterdayzine.blogspot.com
 

DOMESTIC WAR

Live at The Oh Five

'FREE ME' Video

GO VEG!

xREPRESENTx

'The Downfall'. Sellout failed!

xLIFETIMEx

YKHC! Checkout: here!

EARTH CRISIS

Drug-dealers must fall!!

LIOSALFAR

Metalhardcore! Checkout: here!

Followers

Betterday zine Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template