Rabu, 10 Maret 2010

Matador, Adu Binatang, dan Arogansi Manusia


Banyak tradisi-tadisi di dunia yang yang merupakan peninggalan sejarah yang sudah berlangsung selama puluhan, bahkan ratusan tahun, dan masih berlangsung hingga saat ini. Salah satunya adalah Matador, sebuah tradisi pertunjukan “manusia melawan banteng” yang berasal dari Spanyol. Tradisi tersebut menyuguhkan sebuah pertunjukan manusia “melawan” dan mempermainkan banteng di sebuah tempat khusus yang telah disediakan (arena), dimana manusia tersebut dilengkapi dengan kain merah (untuk dikibas-kibaskan) untuk memancing kemarahan banteng, dan tidak lupa membawa pedang dan tombak untuk menyakitinya dan akhirnya membunuhnya.

Entah sudah berapa juta banteng yang terluka dan bahkan sampai terambil nyawanya, hanya untuk kepentingan hiburan manusia semata. Seekor banteng dikeluarkan dari kandangnya untuk kemudian dimasukkan ke arena untuk melayani kesadisan dan kesombongan si pembunuh (matador) dalam permainan tersebut. Si pembunuh mengibas-ibaskan kain merahnya untuk memancing amarah si banteng. Akhirnya si banteng pun terpancing dan mulai lari menubruk kearah kain merah dan si pembunuh tersebut. Sang matador menghindar, dan penonton pun tertawa karena senang dengan adegan yang mencengangkan tersebut, karena dinilai cukup rawan dengan maut. Sungguh tragis nasib si banteng, sambil mengejar si pembunuh, dia masih pula dilempari tombak oleh si pembunuh hingga si banteng jatuh tersungkur berlimbah darah. Saat itu, dengan lemas dan tanpa daya, ia menanti hujaman pedang si matador yang akan mengakhiri nyawanya. Dan penonton pun bersorak sorai atas “kemenangan” matador. Dapat kita lihat dengan jelas kekejaman dari tradisi pertunjukan tersebut dan juga si matador tersebut. Apakah hal tersebut menunjukan keahlian atau skill khusus yang istimewa dari si matador? TIDAK!!! Itu cuma menunjukkan kekejaman yang dilakukan oleh manusia sadis yang merasa bahwa dia “terlihat” menang, karena dia mewmakai senjata, sedangkan si banteng tidak sama sekali!

Matador hanyalah satu dari berpuluh-puluh atau bahkan beratus-ratus tradisi warisan jenis pertunjukan budaya masa lalu yang merugikan binatang. Beberapa contoh tradisi lain adalah adu ayam, adu anjing dengan babi hutan, atau karapan sapi. Pertunjukan adu ayam merupakan sebuah pertunjuakan yang sudah tidak asing lagi bagi orang Indonesia. Walaupun sudah dilarang oleh UU, pertunjukan adu ayam masih sering terjadi di beberapa daerah di seluruh pelosok Indonesia, dan biasanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Adu Anjing vs Babi Hutan

Pernah di suatu program acara di tv yang mempertontonkan sebuah adegan adu anjing dengan babi hutan. Sebuah arena dibuat secara temporer dengan bahan utama bambu. Kemudian beberapa peserta mulai berdatangan dengan menggunakan mobil dengan membawa anjing-anjingnya untuk diadu dengan babi hutan. Babi hutan tersebut merupakan hasil tangkapan panitia dari hutan. Setelah itu para peserta mengambil semacam nomer urut. Anjing-anjing telah disiapkan di sebuah kandang yang dibuat secara khusus dan sifatnya temporer. Babi hutan yang telah siap di tengah arena kemudian diserang oleh seekor anjing yang dilepas dari kandangnya yang dibuka. Kedua binatang itu saling serang. Penonton pun bertepuk-tangan dan bersorak-sorai. Selang beberapa saat, anjing kedua dilepasakan dari kandangnya. Sehingga si babi menghadapi dua anjing yang tentunya telah terlatih untuk hal ini. Kedua anjing tersebut terlihat sangat ganas dengan gigitan-gitannya pada hampir seluruh bagian tubuh si babi. Tanpa pandang bulu lagi, anjing ketiga dilepaskan dari kandangnya untuk ikut menyerang si babi. Karena sudah kehabisan darah, si babi mulai terlihat lemas dan duduk terdiam. Si anjing yang baru masuk tersebut langsung menggigitnya di bagian belakang tubuh si babi. Si babi kali ini hanya diam, tidak berdaya untuk membalas atau sekedar bertahan. Para penonton terlihat gembira dengan adegan ini.

Dari tulisan ini dapat kita lihat bahwa begitu kejamnya manusia, yang katanya mengaku beragama, bertuhan, bermoral, bla bla bla… It’s all fucking bullshit! Perang yang tiada henti, konflik horizontal yang sering terjadi karena hal sepele, penebangan hutan secara liar dan tak bertanggung jawab, pembuangan limbah (baik dari pabrik maupun peternakan) yang tidak terukur dan menumpuk, serta perilaku kejam manusia terhadap hewan, adalah beberapa hal yang membuktikan bahwa manusia memang makhluk hidup yang paling arogan. Manusia punya akal, budi, dan perasaan yang bisa digunakan sebagai alat penyaring. Apakah kamu mau menjadi bagian dari kekejaman itu? Sadarlah! (El Vegano)

Dimuat di Betterday #7


betterday zine, feb 2010, betterdayzine.blogspot.com
 

DOMESTIC WAR

Live at The Oh Five

'FREE ME' Video

GO VEG!

xREPRESENTx

'The Downfall'. Sellout failed!

xLIFETIMEx

YKHC! Checkout: here!

EARTH CRISIS

Drug-dealers must fall!!

LIOSALFAR

Metalhardcore! Checkout: here!

Followers

Betterday zine Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template